SPANYOL,LAYAK!

04Jul08

Sekali lagi, layak !

Spanyol memang layak menjadi kampiun Piala Eropa 08. Kemenangan 1-0 atas Jerman di final kemarin menjadi bukti daya serang anak-anak asuhan Luis Aragones, sang pelatih tertua di ajang tersebut. Mereka mampu mempertahankan kemenangan 100% tanpa kalah. Bukan itu saja, mereka mampu menampilkan penampilan bermain sepak bola yang indah. Gerakan kaki-ke kaki, bergerak terus mencari ruang untuk menerima umpan terbukti jitu.

Sebelum pertandingan, Jerman yang sering dianggap sebagai mesin diesel karena kian panas ketika mendekati babak selanjutnya dalam turnamen dianggap memiliki peluang besar mengingat ukuran dan kekuatan fisik para pemainnya. Umpan-umpan lambung, servis bola mati, dan tackling pemain Jerman berhadapan dengan umpan-umpan pendek , teknik individu, dan kecepatan pemain Spanyol. Hasilnya?

Continue reading ‘SPANYOL,LAYAK!’


Ini kesan yang saya anggap pantas untuk Rusia. Kekalahan di fase grup dari Spanyol dengan skor 4-1 tidak membuat mereka belajar. Lemahnya barisan pertahanan kembali terulang yang dikawal oleh Alexandes Anuikov, Yuri Shirkov, Vasily Berezutsky, Sergei Ignashevics

Continue reading ‘RUSIA TIDAK BELAJAR!’


TRAGIS !

21Jun08

Kata tersebut yang berada di fikiran saya ketika berakhir pertandingan antara Belanda versus Rusia. Setelah tidak menulis tentang strategi para tim nas di fase grup Piala Eropa, muncul keinginan untuk menuliskan apa yang berkesan di pertandingan ini. Saya yakin,banyak orang tidak menduga bahwa pertandingan seperti ini prosesnya. Akhirnya, Rusia menang dengan skor 3-1. Mereka lolos ke perempat final mengalahkan Belanda, sang pujaan banyak orang yang terkesan dengan total football di awal fase grup. Continue reading ‘TRAGIS !’


“Apa yang terjadi di Inggris adalah tim-tim terbaik mempersiapkan pemain tim nasional bagi lawan-lawan Inggris”

(Sepp Blatter,Presiden FIFA, di Universitas Zurich, kompas 7 Juni 2008)

Kualifikasi Piala Eropa 2008, bagi penggemar Inggris, menyisakan kekecewaan mendalam. Kekalahan 3-2 dari Kroasia dihadapan pendukung sendiri. Awal pengundian grup, banyak pengamat mengatakan bahwa Inggris berada di grup yang relatif lebih ringan dibanding dengan grup-grup lain. Para pemain timnas dianggap sebagai pemain berkualitas maka target juara grup diambil sebagai lambang percaya diri. Kenyataannya? Continue reading ‘INGGRIS : IRONI DIANTARA PIALA CHAMPION 08 DAN PIALA EROPA 08’


Tak ada yang saya ingin urai panjang. Permainan timnas kita belum sesuai dengan harapan. Saya pikir mereka akan belajar apa yang tidak bisa dimaksimalkan ketika melawan Bayern Munchen, ternyata tidak jauh beda. Pemain-pemain kita di babak pertama sepengamatan saya kurang kreartif. Formasi 4-3-3 belum bisa menunjukkan kreatifnya karena tumpuan serangan mengandalkan dobrakan Elie Aiugboy dan Budi Sudarsono di sisi iri dan kanan, mudah ditebak. Sebaliknya, para pemain Malaysia yang kabarnya adalah sebagian besar pemain muda mampu merepotkan barisan belakang kita. Gol Bambang Pamungkas diperoleh melalui tendangan penalti. Sedang gol tim lawan diperoleh melalui sundulan Mohammad Shukor bin Adnan ke gawang timnas kita. 1-1. Inilah skor hingga akhir pertandingan. ya, itulah yang terjadi. Sebenarnya saya ingin melihat gelora permainan timnas kita yang enerjik, lepas dan ngotot seperti ketika bertanding di kualifikasi Piala Asia kemarin. Bahrain kita sikat 2-1, kemudian kalah tipis dari Arab Saudi 1-2, dan mampu menahan kekalahan dengan skor tipis semi finalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan. Kira-kira kapan lagi ya bisa melihat gelora seperti itu ?


Ketika mendengar bahwa timnas kita akan melawan juara Bundesliga tahun ini, Bayern Munchen,saya berkomentar “main saja”. Bila menang berarti luar biasa, sedang kalau kalah ya wajar. Masih kalah kelas.

Sewaktu nonton, saya tidak terbius lagi seperti biasa ketika menonton sepak bola tim favorit saya. Biasanya, kalau tim favorit saya kalah, saya malas makan. Sedih. Tapi kemarin rabu sore, semuanya mengalir. Saya lebih menikmati usaha-usaha teknis dari masing-masing tim. Operan-operan bola, tackling, sundulan ,tendangan umpan dan cetakan gol menjadi pembeda yang jelas kualitas kedua tim.

Pemain Bayern Munchen yang bermain bukanlah pemain inti. Mereka lebih santai. Sering hanya berjalan menanti ksempatan baik menerima umpan atau mencari celah mendapat bola. Terasa sulit sekali pemain-pemain kita memenangkan duel teknik dengan mereka. Seingat saya, pada babak pertama Oliver Khan baru menyentuh bola pada menit ke 7. Artinya, pemain belakang Munchen cukup kuat menandingi gempuran timnas.

Continue reading ‘TIMNAS PSSI VERSUS BAYERN MUNCHEN’


Ketika menonton final Liga Champion yang serasa “Liga Inggris”, saya kagum dengan performa Ronaldo (MU) yang menyumbangkan gol bagi timnya. Dengan sundulan yang manis, Peter Cech hanya menatapi gawang sisi kanannya yang melompong. Saya bilang, gol yang bagus. Ia bisa jadi pencetak gol terbanyak di liga ini. Begitu pula ketika melihat John Terry yang mampu menepis tembakan Ryan Giggs ke gawang Cech yang telah melompong dengan sundulan, Giggs serasa tak percaya. Melihat hal itu, saya juga berujar, Chelsea semakin percaya diri karena kaptennya begitu perkasa di belakang. Penyelamatan itu memelihara semangat bertanding tim.

Continue reading ‘PECUNDANG ATAU PAHLAWAN ?’


Terasa menegangkan menonton pertandingan final antara Chelsea dan Manchester United 08. Kita harus mengetahui pemenang liga Champion ini lewat pertandingan adu penalti. Kegagalan tendangan Christiano Ronaldo (MU) , Jhon Terry (Chelsea) dan Nicholas Anelka (Chelsea membuat skor 7-6 untuk MU. Sewaktu babak pertama skor masih 1-1 dicipta oleh Ronaldo (MU) dan Frank Lampard (Chelsea), pertandingan begitu seru. Babak II, dominasi Chelsea begitu terasa. Wayne Rooney, Ronaldo dan Carlos Teves (MU) benar-benar dijaga ketat. Praktis, serangan MU tak kentara lagi. Namun saya teringat pendapat umum dalam sebuah pertandingan besar seperti ini, terdapat tanda-tanda klub tersebut akan menang atau kalah, yakni hasil tendangan yang membentur gawang lawan.

Continue reading ‘TANDA TANDA KEKALAHAN?’


Secara sederhana, judul ini memiliki pengertian bahwa Eropa menjadi acuan, mode ataupun cara berpikir. Di dalam sepak bola, hal ini tampak dalam gairah persepakbolaan dunia. Iya, Eropa adalah brand citarasa sepak bola dunia.

Demikian pula yang terjadi di Indoensia. Ketertarikan terhadap liga-liga Eropa sungguh besar. Kita masih ingat manakala Liga Inggris tak bisa lagi disiarkan secara gratis di Indonesia karena biaya hak siarnya semakin membumbung. Kesedihan demikian terasa dan dapat disimak dalam obrolan sehari-hari, milis, dan tulisan di media massa.

Liga nasional juga ditayangkan oleh TV nasional kita, namun sepertinya tak segebyar kemasan sajian liga asing tersebut. Liga-liga di Eropa tampak bercitra sebagai liga dunia walau sebenarnya hanya mewakili satu benua saja. Sajian liga ini kiranya mengangkat prestise penontonnya menjadi sekelas penonton sepak bola yang dibicarakan orang seluruh dunia. Liga-liga ini menjadi rujukan mimpi banyak pemain, pelatih, klub dan penonton untuk bisa berlabuh di Eropa. Sehingga tidak berlebihan bila kita menyebutnya Eropasentris.

Eropasentris disini bukanlah berarti merujuk menyeluruh kepada seluruh negara atau liga di Eropa namun merujuk kepada beberapa negara dan liga yang dianggap memiliki reputasi tinggi dalam pesepakbolaan dunia. The Big Five, inilah sebutan bagi Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Melalui mereka, sederatan sejarah mewakili Eropa telah tercetak sebagai peletak benua yang berpengaruh.

Timbul pertanyaan kita, mengapa negara–negara dan liga-liga tersebut mampu menyedot antusias kita ?

Saya melihat hal itu dikarenakan beberapa faktor, yakni : Continue reading ‘EROPASENTRIS (I)’


Anda menonton pertandingan antara Manchester United melawan Bayern Munchen pada laga final liga Champion tahun 1999? Jika ya, bagi para penggila bola tentu tak akan mudah melupakan degup adrenalin anda. Serangan yang tiada berhenti dari masing-masing klub dan kehilangan konsentrasi para pemain Bayern Munchen, menghantar MU sebagai pemenang dengan skor 2-1 pada menit injury time setelah tertinggal 1-0.
Atau anda juga menonoton final liga champion 2005 di Istanbul Turki antara Liverpool melawan AC Milan? Setiap melihat rekaman ulang pertandingan itu, drama yang terjadi sungguh menyentuh hati. Babak pertama, Liverpool telah ketinggalan 3-0. Banyak orang telah berasumsi, kemenangan telah diraih AC Milan. Tapi apa fakta? Dalam tempo 6 menit, Liverpool mengguncang asumsi jutaan penonton di seluruh dunia. 3 gol tercipta oleh Steven Gerad, Smicer, dan Xabi Alonso. Rasa tertekan yang dialami AC Milan dan kepercayaan diri Liverpool membuat permainan begitu menegangkan. Setiap bola bergulir, diiringi oleh derasnya adrenalin penonton. Hingga adu penalti berlangsung, Jerzy Dudek menjadi pahlawan kemenangan Liverpool.
Continue reading ‘BERJUANG HINGGA MENIT TERAKHIR’




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.