Hadir sebagai olah raga, dikemas sebagai bisnis, dan mampu mempengaruhi peristiwa politik, itulah sepak bola”

Kalimat di atas merupakan pembuka pengakuan bahwa sepak bola telah menjadi olah raga yang keberadaannya terkait dengan bisnis dan politik modern. Tak susah untuk mencari contoh. Saya mulai dari pertanyaan ini: Siapa tak kenal David Beckham? Rasanya hanya orang yang benar-benar tidak menyukai sepak bola yang tidak mengenalnya. Tampan, kaya raya, jago tendangan bebas dan umpan matang ke teman merupakan ciri yang ia miliki dan mudah diingat orang. Saat ini berada di klub LA Galaxy pasca meninggalkan Real Madrid yang telah ia bela selama 3 musim. Walau baru pada tahun terakhir kontribusinya bermanfaat mengatar Real Madrid ke tampuk juara La Liga namun David Beckham tetap dianggap ikon potensial penyumbang meraih peningkatan finansial klub khususnya di benua Asia melalui suvenir dan iklan. Dari semua usahanya, Real Madrid menjadi brand yang semakin dekat dengan kehidupan sosial para pendukungnya di seluruh dunia. Alhasil, ketika simpati sudah teraih, maka semua informasi dan produk yang dikeluarkan oleh Real Madrid merupakan hal yang dinanti.

Disamping prestasi klub, orang-orang seperti Beckham semakin mengangkat prestis sepak bola kepada tahap olah raga yang bukan sekedar olah raga. Jauh-jauh hari telah banyak peneliti seperti Robert Hoffman, Lee Chew Ging, Bala Ramasamy ( 2002) menyatakan bahwa sepak bola telah menjadi industri berskala mliyaran dollar. Apa artinya ?

Seperti kita pahami, sesuatu produk yang populer menumbuhkan aktifitas ekonomi yang menggeliat hingga ke seluruh dunia. Ini dikondisikan oleh adanya karakter umum yang terbentuk tentang sepak bola yang telah menjadi ikon dunia, yakni: pertama, sepak bola cenderung mudah dilakukan dengan peralatan yang terjangkau. Hanya bermodal sebuah bola baik dari karet maupun plastik dan sepetak lahan, telah bisa membuat seorang pemainnya berlaku seperti bintang pujaannya. Kedua, gebyar pertandingan banyak diulas oleh media massa dan elektronik hampir setiap hari sehingga menjaga kepopuleran cabang ini. Ketiga, jumlah penonton yang besar mengundang sponsor yang besar pula mendukung terselenggaranya sebuah pertandingan. Ini bisa dilihat dari ragam merek-merek produk yang beredar di pasaran.

Tak heran, pertandingan sepak bola menjadi sebuah pertunjukkan yang paling dinanti orang setiap harinya baik melalui media cetak maupun elektronik. Milis-milis tentang klub dan sepak bola sebagai bentuk partisipasi masyarakat di dunia maya (internet) banyak bertebaran. Cabang ini telah mampu pula mendorong terbentuknya masyarakat dunia bersama-sama menonton sebuah pertandingan yang didalamnya terdapat banyak perbedaan ras, asal pemain, warna kulit, agama dan status sosial lainnya. Konsep loyalitas fans berkembang keluar dari batas-batas geografis negara dan kedekatan atribut social seperti pangkat, jabatan, umur dll. Mereka terkondisikan untuk menyepakati bahwa prestasi klub ataupun tim nasional yang mereka dukung merupakan keinginan bersama.

Hal paling dekat tentang kepopuleran sepak bola bisa kita lihat pada kesediaan orang baik anak-anak, muda,maupun tua untuk memakai kaos kostum sepak bola dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa kita lihat di sekolah, jalan-jalan, mall dll. Saya ingat, peran Ucup dalam komedi Bajaj Bajuri selalu mengenakan kotum bola apapun timnya. Terlepas dari itu kaos asli atau bajakan, pemakaian kaos tersebut melambangkan kedekatan mereka dengan olahraga sepakbola pada umumnya, dan tim asli asal kostum yang bersangkutan.

Kondisi ini tentu saja terasa manis bagi kepentingan bisnis. Ketika ratusan hingga jutaan pasang mata mengawasi sebuah pertandingan baik tingkat daerah hingga dunia, sama saja pasangan mata tersebut akan melihat sebuah tawaran produk yang menjadi sponsornya. Pertandingan sepak bola menjadi sebuah lahan promosi yang menggiurkan bagi banyak perusahaan. Eksistensi dan citra perusahaan sangat terbantu oleh gemerlapnya sebuah pertandingan yang paling dinanti. Gengsi sebuah produk menjadi setingkat pertandingan yang ia sponsori. Malah jika klub atau timnas yang bersangkutan memiliki prestasi yang bagus, para sponsor kian rela merogoh kocek lebih dalam.

Imbas nyata kepada klub maupun tim nasional. Di tingkat ini, guyuran dana mengalir deras sehingga bermanfaat bagi pengelolaan klub secara profesional. Klub memiliki kesempatan untuk mencari pemain-pemain berkualitas tinggi yang tentu saja bergaji mahal. Stadion-stadion diperbaiki untuk meningkatkan kenyamanan penonton yang berakhir pada peningkatan harga karcis masuk. Penjualan hak siar dan souvenir ke seluruh dunia semakin mempopulerkan klub sebagai sebuah badan usaha yang mengagumkan.

Dengan demikian, sepak bola yang dikelola oleh klub maupun tim nasional berpeluang menjadi industri global. Semakin besar industri ini, maka semakin banyak pula pihak-pihak yang berkepentingan. Sepak bola menjadi alat kepentingan pihak-pihak tertentu. Kasus perpindahan kepemilikan Manchester United (MU) kepada Malcom Glazer,seorang pengusaha Amerika Serikat, pada awalnya menunjukkan keanehan. Seorang pengusaha asuransi dari sebuah negara dimana sepak bola merupakan olah raga yang kalah populer dengan Basket ataupun American Football, sekarang bergelut dengan sebuah kepemilikan sebuah klub sepak bola terkenal. Banyak analis menyebutkan bahwa kepentingan bisnis lebih mendominasi peralihan kepemilikan saham terbesar tersebut. Pro-kontra terhadap kepemilikan ini memang sempat menghebohkan namun masih dapat teredam oleh prestasi Manchester United sebagai pemenang EPL 2007.

Ditingkat lokal, para pendukung yang sangat kecewa dengan akuisisi ini membentuk sebuah tim sendiri yakni FC United. Ini merupakan reaksi logis mereka karena bagi mereka MU merupakan identitas mereka pula. Bagi mereka ,ketika aroma bisnis semakin kental merasuki klub maka imbas yang paling bersinggungan dengan mereka yakni semakin melambungnya harga karcis di Old Trafford. Bagi mereka, kahadiran fan sangat penting ketika klub mereka berlaga. Bila ini tidak terjadi, dimana eksistensi seorang fan?

Kasus lain, otoritas FIFA sebagai badan sepak bola dunia mengeluarkan pernyataan tentang pelarangan penyelenggaraan pertandingan sepakbola diatas 8200 kaki diatas permukaan laut dengan alasan kesehatan. Ini berimbas pada negara-negara di Amerika Selatan yang memiliki tempat pertandingan di dataran tinggi. Warna protes pun beragam. Respon yang berbobot berasal dari Presiden Bolivia yakni Evo Morales. Presiden yang gencar menentang hegemoni Amerika Serikat ini malah mengadakan pertandingan yang dalam kaca mata politik merupakan tentangan terhadap otoritas FIFA. Jelas, negara-negara di kawasan ini akan merasa terancam eksistensi sepakbola nasional dan perputaran uang setiap penyelenggaraannya. Larangan dapat berarti bahwa pertandingan internasional sepak bola yang kebetulan di selenggarakan oleh tempat yang berada di atas 8200 kaki di atas permukaan laut harus dipindah ke tempat atau negara lain.

Ada juga peristiwa yang bisa disimak sebagai contoh peristiwa di tingkat nasional kita yakni pendanaan klub dari kas Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah. (APBD) Jelas, kebijakan ini menjadikan klub sangat terkait dengan kebijakan ekonomi politik pemerintah daerah setempat. Eksistensi klub tergantung dari kemampuan daerah memberikan dana bagi operasional keseharian klub. Klub seolah menjadi “urusan “ pemerintah daerah hingga menjadikan para pejabat sebagai pimpinan kepengurusan klub. Hanya ada sedikit klub yang relatif mampu lebih mandiri mengelola diri secara profesional. Polemik terjadi manakala terdapat surat Menteri Dalam Negeri nomor 903/187/SJ tanggal 30 Januari 2007 yang melarang penggunaan dana APBD bagi kepentingan klub di tahun 2008. Bisa ditebak, apa yang akan dialami klub-klub yang belum mapan.

Sepak bola lebih dari sekedar olahraga, melainkan berubah menjadi media berskala lokal hingga global bagi banyak pihak yang berkepentingan. Pada dirinya, sepak bola telah membentuk jaring-jaring kepentingan yakni bisnis, olahraga dan politik yang saling berkaitan. Semakin tinggi gengsi tim yang bersangkutan maka semakin rumit pola kepentingannya. Saya pikir ini resiko sepak bola itu sendiri ketika telah menjadi industri global. Ya, sekali lagi, sepak bola telah menjadi industri global. Tidak bisa dibendung lagi gelora daya pikatnya menjalar ke seluruh pelosok dunia. Biarpun begitu, ada harapannya yaitu nilai-nilai sportifitas mengiringi usaha tim untuk berprestasi tetap menjadi prioritas karena itulah yang ingin dilihat oleh ratusan juta pasang mata.

KEGUNAAN PERSPEKTIF EKONOMI POLITIK

Gambaran diatas telah menunjukkan adanya wilayah bahasan yang bukan sekedar sepak bola. Sekali lagi, ekonomi politik hadir sebagai perspektif untuk membedah kasus fenomena yang terjadi selama penyelanggaraan, terlebih bila dikaitkan dengan prestasi klub atau tim nasional. Melebar dari sekedar bahasan ekonomi, perspektif ini meyakini adanya faktor lain seperti kebijakan pemerintah, budaya sepak bola lokal, tradisi ilmiah dalam pengembangan sepak bola dll. Sederhananya, prestasi sepak bola tidak semata dipengaruhi oleh kemampuan teknis pemain dan strategi para pelatih. Namun,justru keberpihakan atau tidak berpihak dari semua bentuk bisnis dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan sepak bola setempat yang kiranya mampu menjelaskan prestasi yang diraih klub atau tim nasional setempat.

Contoh besar, adalah tim nasional Inggris. Sebagai liga paling populer di dunia dan kiblat profesionalitas para pemain, wasit, dan penyelenggara pertandingan sepak bola, seharusnya membawa pula prestasi tim nasional Inggris dalam pentas internasional. Namun, apa kenyataannya? Tahun 90-an gebyar gaji para pemain yang melangit, proses kaderisasi yang mapan, jadwal liga yang teratur, fasiltas yang diatas rata-rata, supporter yang setia, dan federasi sepak bola yang berwibawa, tim nasional Inggris tak lagi menyimpan trofi internasional di negaranya. Mereka selalu menjadi langganan kandidat juara namun piala tak pernah mereka angkat.

Salah satu penjelasannya bisa ditarik dari tidak adanya kebijakan otoritas sepak bola setempat untuk membatasi jumlah pemain asing. Secara bisnis ini menguntungkan sebagai penambah semarak Liga Inggris, tapi terasa sangat merugikan bagi perkembangan para pemain muda Inggris yang sangat kekurangan kesempatan bertanding sehingga menghambat pengkaderan. Ketika satu pemain tim nasional bintang cedera, maka ungkapan “krisis” begitu mudah dilekatkan pada kekuatan tim nasional.

Penjelasan lain lagi yakni, karena menyadang sebagai liga terhebat maka sebanding dengan aliran peredaran uang disana, jumlah pertandingan juga membengkak. Seorang pemain harus melakukan 1-2 pertandingan satu minggu untuk satu liga padahal ada 2-3 jenis kejuaraan yang harus diikuti. Akibatnya bisa diketahui yakni maraknya pemain cedera. Jelas ini bukan hal yang menguntungkan bagi pemain, klub ataupun tim nasional.

Meminjam pendapat dari Sugden dan Tomlinson (1998) bahwa penjelasan ekonomi politik juga bisa membuktikan bahwa sepak bola sangat terkain dengan ekspresi nasionalisme. Masih membekas di ingatan kita tentang prestasi tim nasional Indonesia ketika berlaga di Piala Asia tahun ini. Pada awalnya, banyak pihak yang sudah skeptis dengan keberadaan tim nasional yang lebih banyak menorehkan citra yang belum positif baik karena prestasi yang tidak kunjung membaik ataupun imbas dari semarak Liga nasional yang belum bisa lepas dari tawuran antar supporter, pemain, pemukulan wasit dll. Sikap skpetis juga tertuju kepada PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola nasional karena aplikasi visi dan misinya yang dirasa tidak bisa megangkat perkembagan sepak bola nasional.

Khusus dalam fenomena Piala Asia, semua kelompok supporter berpadu mendukung tim nasional. Mereka menanggalkan atribut klub dan kedaerahan, diganti dengan atribut merah putih. Sungguh menjadi momen yang indah. Stadion Gelora Bung Karno menjadi saksi kekuatan para supporter ini bergelora membuat nyali para lawan tim nas Indonesia menciut. Tak urung, semifinalis piala dunia 2002, Korea Selatan pun mengakui dukungan para supporter Indonesia dapat mempengaruhi mereka.

Tulisan diatas dimaksudkan hanya sebagai pengantar, sebuah harapan terbentuk usaha ikut mengembangkan sepak bola dari kajian ilmiah yang pada akhirnya mampu menjadi referensi berharga bagi siapapun yang mencintai sepak bola dan mempercayai bahwa melalui sepak bola, perdamaian bisa diselenggarakan bersama. Sepak bola untuk kita semua!

Referensi:

1. Wyn Grant : Is A Political Economy of Football Possible? :

Department of Politics and International Studies, University of Warwick , 2006

2.Robert Hoffmann, Lee Chew ging, Bala Ramasamy: The Socio-Economis Determinants of International Soccer Performance : The University of Nothingham.



No Responses Yet to “BUKAN SEKEDAR “SEPAK BOLA””  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply