Secara sederhana, judul ini memiliki pengertian bahwa Eropa menjadi acuan, mode ataupun cara berpikir. Di dalam sepak bola, hal ini tampak dalam gairah persepakbolaan dunia. Iya, Eropa adalah brand citarasa sepak bola dunia.

Demikian pula yang terjadi di Indoensia. Ketertarikan terhadap liga-liga Eropa sungguh besar. Kita masih ingat manakala Liga Inggris tak bisa lagi disiarkan secara gratis di Indonesia karena biaya hak siarnya semakin membumbung. Kesedihan demikian terasa dan dapat disimak dalam obrolan sehari-hari, milis, dan tulisan di media massa.

Liga nasional juga ditayangkan oleh TV nasional kita, namun sepertinya tak segebyar kemasan sajian liga asing tersebut. Liga-liga di Eropa tampak bercitra sebagai liga dunia walau sebenarnya hanya mewakili satu benua saja. Sajian liga ini kiranya mengangkat prestise penontonnya menjadi sekelas penonton sepak bola yang dibicarakan orang seluruh dunia. Liga-liga ini menjadi rujukan mimpi banyak pemain, pelatih, klub dan penonton untuk bisa berlabuh di Eropa. Sehingga tidak berlebihan bila kita menyebutnya Eropasentris.

Eropasentris disini bukanlah berarti merujuk menyeluruh kepada seluruh negara atau liga di Eropa namun merujuk kepada beberapa negara dan liga yang dianggap memiliki reputasi tinggi dalam pesepakbolaan dunia. The Big Five, inilah sebutan bagi Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Melalui mereka, sederatan sejarah mewakili Eropa telah tercetak sebagai peletak benua yang berpengaruh.

Timbul pertanyaan kita, mengapa negara–negara dan liga-liga tersebut mampu menyedot antusias kita ?

Saya melihat hal itu dikarenakan beberapa faktor, yakni :

1. Faktor Sejarah

Perhatikan tabel berikut ini :

Daftar Negara Peserta semifinal Piala Dunia dan Tuan Rumah tahun 1930-2006

Tahun

Tuan rumah

Juara 1

Juara 2

Juara 3

Juara 4

1930

Uruguay (A)

Uruguay (A)

Argentina (A)

Amerika Serikat* (A)

Yugoslavia*(E)

1934

Italia (E)

Italia (E)

Chekoslovakia (E)

Jerman (E)

Austria (E)

1938

Prancis (E)

Italia (E)

Hungaria (E)

Brazil (A)

Swedia (E)

1950

Brazil (A)

Uruguay (A)

Brazil (A)

Swedia (E)

Spanyol (E)

1954

Swiss (E)

Jerman Barat (E)

Hungaria (E)

Austria (E)

Uruguay (A)

1958

Swedia (E)

Brazil (A)

Swedia (E)

Prancis (E)

Jerman Barat (E)

1962

Chli (A)

Brazil (A)

Cekoslovakia (E)

Chili (A)

Yugoslavia (E)

1966

Inggris (E)

Inggris (E)

Jerman Barat (E)

Portugal (E)

Uni Sovyet (E)

1970

Mexico (A)

Brazil (A)

Italia (E)

Jerman Barat (E)

Uruguay (A)

1974

Jerman Barat (E)

Jerman Barat (E)

Belanda (E)

Polandia (E)

Brazil (A)

1978

Argentina (A)

Argentina (A)

Belanda (E)

Brazil (A)

Italia (E)

1982

Spanyol (E)

Italia (E)

Jerman Barat (E)

Polandia (E)

Prancis (E)

1986

Mexico (A)

Argentina (A)

Jerman Barat (E)

Prancis (E)

Belgia (E)

1990

Italia (E)

Jerman (E)

Argentina (A)

Italia (E)

Inggris (E)

1994

Amerika Serikat (A)

Brazil (A)

Italia (E)

Swedia (E)

Bulgaria (E)

1998

Prancis (E)

Prancis (E)

Brazil (A)

Kroasia (E)

Belanda (E)

2002

Korea/Jepang (As)

Brazil (A)

Jerman (E)

Turki (E)

Korea Selatan (As)

2006

Jerman (E)

Italia (E)

Prancis (E)

Jerman (E)

Portugal (E)

*=juara bersama

E= Eropa A= (Amerika) As=Asia

Sumber : the socio-economic determinants of international soccer performance : R Hoffman, LC Ging, dan B Ramasamy, 2002 dan www. fifa.com

Ada beberapa catatan dari tabel ini, yakni :

  1. Baru 2 benua yang mampu menjadi kampiun piala dunia yakni : Eropa dan Amerika
  2. Untuk kawasan Eropa, baru ada 4 negara yang menjadi juara 1 yakni : Italia (5x), Inggris (1), Jerman (Jerman Barat) (2x), dan Perancis (1x). Benua Amerika menghadirkan 3 negara : Uruguay (2x), Brazil(5x), Argentina (2x)

3. Asia baru diwaikili oleh Korea Selatan sebagai semi finalis Piala Dunia 2002 selama perhelatan Piala Dunia berlangsung ( Turki dianggap masuk Eropa)

Walau belum merata,kita bisa menganggap bahwa benua Eropa merupakan penghasil negara terbanyak juara sepak bola modern yang mampu menjadi kampiun piala dunia. Mereka mencipta sejarah yang belum dimiliki oleh benua lainnya selain benua Amerika. Mereka mampu memenangkan sebuah piala dunia dari sebuah Perkumpulan dunia bernama FIFA (Fédération Internationale de Football Association) yang anggotanya berjumlah 202 negara,melebihi angggota United Nations /PBB yang berjumlah 192 negara.

Suatu status selalu dilekatkan kepada negara-negara ini yaitu, negara langganan piala dunia. Setiap masa awal perhelatan piala dunia, mereka dianggap sebagai kandidat peraih juara. Kita terbiasa melihat nama negara tersebut dalam grup final, maka akan terasa ada yang kurang dibenak pemirsa bila mereka tidak lolos ke perhelatan besar tersebut.Apa artinya? Mereka diakui sebagai negara yang selalu mampu menembus babak final piala dunia. Prestasi dan opini publik membentuk sebuah brand yang prestisius sebagai negara elit dalam kancah sepak bola.

Diluar perhelatan dunia itu, ada mekanisme khusus untuk menilai prestasi mereka. Sekarang kita perhatikan kembali mengenai FIFA World Rangking per 1 maret 2008

Rangking

Negara

Poin

1

Argentina (A)

1556

2

Brazil (A)

1514

3

Italia (E)

1505

4

Spanyol (E)

1355

5

Jerman (E)

1294

6

Rep Ceko (E)

1253

7

Perancis (E)

1234

8

Portugal (E)

1206

9

Belanda (E)

1179

10

Yunani (E)

1160

A = Amerika E= Eropa

Sumber : www.fifa.com

Kembali, data diatas memberi gambaran adanya dominasi negara-negara Eropa yang memiliki rating poin terbanyak dibanding dengan kawasan benua lainnya. Rating poin ini merupakan cara pemberian peringkat prestasi kepada negara-negara anggota FIFA yang memiliki prestasi baik. Setiap pertandingan dan pencapaian prestasi tertentu memiliki perhitungan poin tersendiri. (lebih jelas lihat www.eloratings.com)

Dimana Inggris ?

Menurut eloratings per maret 08, Inggris setelah kegagalannya menembus pentas Piala Eropa, terlempar dari ranah 10 besar. Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa secara umum pencapaian prestasi dari negara-negara Eropa memang lebih baik. Mereka menjadi kawasan yang kemampuan angota-anggotanya relatif merata ditingkat 10 besar. Dengan demikian, memang tidak berlebihan bahwa pengalaman-pengalaman yang telah terjadi di kawasan Eropa layak menjadi rujukan bagi kita.

2. Faktor media

Bila tadi telah dipaparkan tentang sejarah, maka disini peran media coba saya gali. Media sangat membantu menanamkan kekuatan brand Eropa ke dalam wilayah sosial masyarakat kita. Dalam lingkup yang lebih kecil,baiklah kita ingat hal-hal tentang saluran Tv di Indonesia yang menyiarkan di Indonesia.

Nama Tv

Nama Program

Hari dan Jam Tayang

Trans 7

Liga Italia (Liga seri A)

Hari Sabtu dan Minggu Malam pukul 19.00

One Stop Football

Sabtu pukul 13.30 wib

Sport 7 & Sport 7 malam

Setiap hari pukul 06.00-06.45 wib

dan pukul 00.00 wib. Menyajikan juga cabang olah raga lain dan sajian informasi liga di luar Eropa. Namun, wilayah Eropa mendapat porsi yang lebih banyak.

Hilite Il Grande del Calcio

Jumat pukul 23.00

Star AN Tv

Piala FA Inggris

Waktu tertentu sesuai jadwal

Lensa Olahraga & Lensa Olah raga malam

Setiap hari pukul 06.30-07.00 wib dan 22.30 wib Menyajikan juga cabang olah raga lain dan sajian informasi liga di luar Eropa. Namun, wilayah Eropa mendapat porsi yang lebih banyak

World Kick off

Setiap sabtu pukul 14.30 wib

RCTI

La Liga

Setiap hari minggu dan senin dini hari

Liga Champion Eropa

Jadwal tertentu

Final Piala Eropa

Jadwal tertentu

Global Tv

Liga Italia

Setiap sabtu dan minggu malam

Global Sport

Setiap hari pukul 23.30 wib

Tv One

Liga Belanda

Setiap hari Sabtu sore..

Liga Inggris per chanel Tv ulangan atau Live.

Setiap hari sabtu pukul 20.00 wib

Kabar Arena

Setiap hari pukul 05.30 wib

Metro Tv

Spirit Football

Setiap Sabtu pukul 13.05 wib

Metro Sports

Setiap malam pukul 23.05 wib

Sumber : penelusuran penulis

Dari data ini, maka bisa diketahui bahwa sajian pertandingan sepak bola dan ulasan-ulasannya berlangsung setiap hari. Media Televisi masih menjadi media umum masyarakat selain internet yang baru dimiliki kelompok terbatas. Sajian berita-berita sepak bola Eropa jelas memiliki kontribusi penting menanamkan informasi tentang sepak bola Eropa kepada penontonnya baik yang berusia anak-anak hingga orang tua. Sepak bola adalah sajian informasi yang ditunggu lintas generasi.

Kedekatan masyarakat pada tayangan ini ikut mendorong munculnya fans club Liga Eropa. Sebut saja Milanisti Indonesia (pecinta klub AC Milan, Italia), Romanisti Indonesia (pecinta klub AS Roma, Italia), Arsenal Indonesian Supporters (pecinta klub Arsenal, Inggris), Bayern Munchen Indonesia ( pecinta klub Bayern Munchen, Jerman). Mereka lahir dari ketertarikan individu-individu terhadap suatu klub, kemudian mereka membentuk komunitas baik berinteraksi langsung atau melalui millis. Dalam perkembangannya, mereka biasa mengadakan pertemuan bersama misal nonton bareng ketika klub kesayangan mereka bertanding.

Ini menandakan masyarakat menerima keberadaan klub-klub tersebut walau mereka belum pernah berkunjung ke markas klub tersebut. Melepas atribut sosial atau perbedaan dan masalah-masalah hidup, mereka berkumpul mengidentifikasikan diri kedalam suatu bagian sebagai suporter klub. Sepertinya ini memang gejala modernitas yang mampu menawarkan ikatan-ikatan baru lintas geografis melalui suatu produk sosial tertentu. Disini sepak bola menemukan perannya.

3. Faktor Industri

“ ada gula ada semut”

Begitu peribahasa kita mampu menjelaskan suatu keadaan sosial dimana suatu tempat menyediakan kebutuhan hidup, maka akan banyak orang datang kesitu. Ini saya gunakan untuk memulai pemahaman bahwa Eropa merupakan ladang bisnis yang menjanjikan bagi para pemain sepak bola yang bertalenta dan memiki keberuntungan. Demikian pula bagi para sponsor, melalui sepak bola mereka lebih mudah menembus wawasan para penonton sepak bola tentang produk mereka ke berbagai belahan dunia.

Setahun lalu, saya membaca majalah Bola Vaganza edisi bulan Maret 2007. Benhard Sitorus dalam tulisannya yang berjudul Peta Imperium Sport TV memulai dengan pertanyaan : Mengapa jadwal F-1 tidak pernah bentrok dengan kompetisi besar dunia seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau English Premier League?

F-1 dan Sepak bola merupakan industri olahraga yang suskes untuk tingkat dunia. Mereka seolah-olah bukan bersaing tapi saling berteman untuk mempertahankan perhatian orang dari layar Tv baik yang Tv kabel maupun Tv terrestrial (nir kabel). Sepertinya memang ada deal-deal tingkat tinggi dari para pebisnis untuk menjaga kondisi itu.

Dalam benak mereka, Asia, sebagai contoh, merupakan pasar yang sangat besar mengingat besarnya jumlah penduduk dan minat mereka kepada sepak bola. Ada ratusan juta pasang mata memelototi setiap pertandingan bola yang diperlukan banyak produk untuk menumpang iklan. Beragam perbedaan geografis dan budaya ditembus oleh sepak bola, ini merupakan kekuatan luar biasa dalam bisnis membedah potensi yang ada di Asia.

Begitu pula untuk Indonesia, persaingan antar saluran Tv begitu kencang untuk mengikat padangan mata para penggila bola. Dulu ada ABU (Asian Pasific Broadcasting ; www.abu.org ) sebuah lembaga nirlaba yang menjembatani komunikasi bisnis dengan pihak penyelenggara seperti IOC, FIFA, AFC dan UEFA. Mengingat ABU memiliki jumlah anggota yang besar maka ia memiliki daya tawar yang tinggi. Ujung-ujungnya, harga dapat ditekan lebih murah.

Josep Lopiwudhi dalam edisi Bolavaganza itu menulis, RCTI mulai mendobrak tradisi sebelumnya dengan bergabung melalui ABU. RCTI memasang strategi khusus yakni tayangan ekslusif mulai dari Seri A liga Italia, hingga Hak siar ekslusif Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea. Akibatnya jelas, harga ekslusivitas sebanding dengan gelontoran dana sekitar 5 juta dollar atau 45 milyar rupiah. Ini belum biaya sewa satelit dll. Kabarnya, tahun 2006 FIFA menaikkan harga hak siar setelah melihat kemampuan RCTI. Kita tahu waktu itu, SCTV lah yang memenangi tender itu.

Secara umum, dalam edisi tersebut dipaparkan banyaknya pihak yang terlibat dalam bisnis broadcasting antara penyelanggara pertandingan seperti FIFA, EPL, UEFA , pelaku pertandingan yakni klub, dan para pemilik perusahaan Broadcasting. Mereka bernegosiasi tentang hak siar. Kisaran uang yang beredar bukan lagi dalam Milyar melainkan Trilyun.

Sepertinya terlalu sulit untuk menghitung pasti perputaran uang melalui dunia sepak bola di Eropa. Selain bisa dilihat dari bisnis broadcasting (penyiaran),gebyar bisnisnya bisa kita simak pula dari kontrak pemain. Pasca kemenangan Bosman, seorang pemain di wilayah Eropa yang memenangkan peradilan melawan bekas klubnya, telah dijadikan hukum (Bosman Rulling) untuk para pemain sepak bola Eropa. Pemain menjadi lebih leluasa untuk menentukan pilihannya pasca kontrak habis. Seiring dengan perkembangan bisnis,harga kontrak semakin meningkat. Kita dapat menyebut pemain seperti Thiery Henry yang pindah ke Barcelona dari Arsenal seharga 16 juta Pounds. Kini para pemain sepak bola Eropa segera masuk kedalam daftar orang kaya di dunia.

Melonjaknya harga kontrak tersebut secara bisnis jelas berkorelasi positif dengan item lain seperti harga tiket menonton,merchandise klub atau tim nas, kontrak promosi dan sponsor klub atau tim nas, hak siaran televisi uintuk pertandingan dll. Sepak bola tidak saja menawarkan kebersamaan antar suporter dan pemain,dunia fashion juga melekat pada atraksi para pemain di lapangan. Masih ingat ketika Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang, publik menantikan seperti apa gaya rambut David Beckham? Begitu pula, klub AC Milan dikenal sebagai klub berbusana elit sebelum pertandingan bagi para pemainnya. Dengan demikian, telah terjadi item-item bisnis yang saling bertautan dan berkesinambungan terjadi di dalam maupun di luar lapangan. Inilah yang disebut Industri. Sepak bola Eropa telah menjadi industri besar merambah keluar benua, bahkan sepertinya cocok pula disebut mega indsutri.

Kondisi ini pula yang bisa menjawab mengapa dalam tabel-tabel data Piala Dunia dan peringkat eloratings tadi, Argentina, Brazil, dan Uruguay (dalam sejarah piala dunia) menduduki tempat utama namun kondisi industri tetap mengacu kepada Eropa. Mereka juga memiliki brand sebagai negara langganan juara dunia, tapi banyak para pemainnya yang hijrah ke kancah Eropa.Ya, Eropa telah berhasil menata diri menjadi impian para pemain. Ketika telah bisa menapak liga Eropa maka prestise mereka akan meningkat. Begitu pula kesejahteraan mereka.

Josep Lopiwudhi menulis di edisi Bolavaganza Maret 2008 berjudul : Penaklukan Kedua Eropa. Ia menuliskan betapa antusianya masyarakat di Amerika Latin menyaksikan Liga Champion Eropa. Padahal mereka juga mepunyai liga yang sebenarnya para pemainnya tak kalah talentanya dibanding Eropa, yakni Copa Libertadores. Tapi antusias masyarakat sangat tinggi memandangi para pemain Amerika Latin yang cukup banyak bermain di Liga Champion, kurang lebih 100 orang.

Tak usah heran pula jika rencana mengarak Piala Liga Champion akan terselenggara yakni mampir di Buenos Aires, Mexico City, Monterey, Rio de Janeiro, Santiago, dan Sao Paulo. Apa artinya? Eropa cukup percaya diri berkeliling ke seluruh dunia khususnya ke wilayah elit sepak bola seperti Amerika Latin. Mereka menegaskan eksistensi Eropa sebagai liga bergengsi yang layak ditonton oleh masyarakat di kawasan ini. Ajang seperti ini tentu saja sangat bagus bagi peredaran sponsor karena mereka akan semakin melebarkan brand mereka sebagai brand bergensi dunia.

Demikian catatan saya tentang kekuatan Eropa dan liga-liganya memepengaruhi dunia. Mereka sedang bergerak merambah bagaian dunia melalui jejaring bisnis indsutri yang terencana. Saya pikir, ini tidak berarti bahwa kita telah kalah langkah dan sulit maju seperti mereka. Tidak. Tentunya, bila sepak bola Indonesia ingin seperti itu, harus bersabar melewati proses-proses yang telah dilalui Eropa. Namun bukan berarti kita harus menjiplak secara utuh apa yang telah mereka lalui. Kita harusnya bergerak secara kreatif menelorkan ide dan kebijakan sesuai masalah lokal. Dengan bersabar, fondasi persepak bolaan kokoh sedang kita bangun. Secara langsung atau tidak, sepak bola yang maju akan membuka jejaring perekonomian masyarakat pula sehingga tercipta lapangan kerja baru.



No Responses Yet to “EROPASENTRIS (I)”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply