Ketika menonton final Liga Champion yang serasa “Liga Inggris”, saya kagum dengan performa Ronaldo (MU) yang menyumbangkan gol bagi timnya. Dengan sundulan yang manis, Peter Cech hanya menatapi gawang sisi kanannya yang melompong. Saya bilang, gol yang bagus. Ia bisa jadi pencetak gol terbanyak di liga ini. Begitu pula ketika melihat John Terry yang mampu menepis tembakan Ryan Giggs ke gawang Cech yang telah melompong dengan sundulan, Giggs serasa tak percaya. Melihat hal itu, saya juga berujar, Chelsea semakin percaya diri karena kaptennya begitu perkasa di belakang. Penyelamatan itu memelihara semangat bertanding tim.

Begitu pula apa yang terjadi pada John terry. Tendangan penalti yang seharusnya mengantar Chelsea ke tampuk kampiun, gagal. Ia terpeleset sehingga bola yang sebenarnya telah mengarah ke posisi kosong dari van de Sarr yang salah antisipasi, menjadi tak berguna. Rasa tak percaya harus melepas genggaman pada trophy yang tinggdal diangkat. Keberhasilanya menyelamatkan gawangnya dari tendangan bola Ryan Giggs, seakan sirna diganti oleh sesenggukan tangis.

Pada akhirnya, Ronaldo terselamatkan. Pantaslah ia menangis. Van de Sarr telah menyelamatkan tim dan citranya dengan menepis tendangan Anelka. Ia juga bisa berbangga lagi sebagai pencetak gol terbanyak. Demikianlah, sebelum peluit terakhir berbunyi maka belum selesai pula takdir mereka baik sebagai pemain atau tim untuk disebut sebagai pahlawan atau pecundang.

Sejujurnya, saya keberatan jika John Terry atau Anelka dibebani sebagai sebagai biang kegagalan Chelsea. Karena bagi saya tim manapun yang telah menyelesaikan 2 x 45 menit plus 2 x 15 menit perpanjangan waktu adalah tim yang telah berjuang total. Saya menghormatinya.



No Responses Yet to “PECUNDANG ATAU PAHLAWAN ?”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply