Ketika mendengar bahwa timnas kita akan melawan juara Bundesliga tahun ini, Bayern Munchen,saya berkomentar “main saja”. Bila menang berarti luar biasa, sedang kalau kalah ya wajar. Masih kalah kelas.
Sewaktu nonton, saya tidak terbius lagi seperti biasa ketika menonton sepak bola tim favorit saya. Biasanya, kalau tim favorit saya kalah, saya malas makan. Sedih. Tapi kemarin rabu sore, semuanya mengalir. Saya lebih menikmati usaha-usaha teknis dari masing-masing tim. Operan-operan bola, tackling, sundulan ,tendangan umpan dan cetakan gol menjadi pembeda yang jelas kualitas kedua tim.
Pemain Bayern Munchen yang bermain bukanlah pemain inti. Mereka lebih santai. Sering hanya berjalan menanti ksempatan baik menerima umpan atau mencari celah mendapat bola. Terasa sulit sekali pemain-pemain kita memenangkan duel teknik dengan mereka. Seingat saya, pada babak pertama Oliver Khan baru menyentuh bola pada menit ke 7. Artinya, pemain belakang Munchen cukup kuat menandingi gempuran timnas.
Gol ketiga, saya harus mencatat khusus kejadian ini. Pelanggaran yang dilakukan pemain timnas diganjar dengan tendangan bebas bagi Munchen. Namun saya melihat kebiasaan protes pada wasit muncul yang membuat mereka tidak siap manakala bola telah berstatus “on”. Ingat, di liga kita kebiasaan protes menjadi kajadian yang sepertinya wajib bagi pemain. Bahkan aksi kekerasan pada wasit bisa meneruskan upaya protes tadi. Akibatnya, mereka lengah. Schlaudrauff bergerak cepat mendapat umpan ketika para pemain timnas melongo saja. Jendry Pitoy tak mampu menjangkau bola sodoran mendatar.
Saya meberi perhormatan khusus kepada 2 pemain timnas yang selalu berusaha walau sering gagal yakni Bambang Pamungkas yang mencetak gol menit ke-62 dan Elie Aiboy yang kiranya mampu menunjukkan kepada tim Munchen bawha pemain Indonesia juga ada yang cekatan. Elie beberapa kali merepotkan pertahanan Munchen dari sektor kiri gawang. Sayang, ketidaksiapan pemain lain tidak bisa melanjutkan umpan ini.
Bambang Pamungkas adalah tipe yang pekerja keras dipertandingan itu. Ia memiliki pengalaman berduel dengan Khan, dan Khan menang dengan memblok tendangan Bambang. Di layar televis, kita beberapa kali melihat Bambang geleng-geleng kepala. Sepertinya mengakui sulitnya membobol gawang Munchen. Gol menit ke-62 terjadi karena pergerakan Elie yang cepat dan posisi yang pas dari Bambang mencetak gol ke gawang Munchen yang dikawal kiper cadangannya, Michael Rensing.
Saya melihat semangat pemain timnas meningkat setelah gol tadi. Hanya harus diakui, teknik para pemain muda Munchen berkontribusi pada gol mereka selanjutnya. Menit ke -82, Schlaundraff mencatat hattrick setelah Markus Horizon tidak bisa memblok bola secara sempurna pemain Munchen yang melakukan tendangan jarak jauh, sehingga Schlaundraff mampu mengarahkan bola ke sisi kiri gawang setelah mengecoh pemain belakang timnas.
Gol pemungkas Munchen memperlihatkan ketenangan gelandang muda, Toni Kroos memperdaya Markus dan Maman Abdurahman. Cantik. Diluar dari hasil ini, pelajaran berharga yang diraih timnas adalah : ketenangan karena sebenarnya teknik pemain kita tak buruk dan jangan memprotes terlalu lama kepada wasit karena itu tak berguna. Apalagi dipimpin oleh wasit asing. Hal ini harus diingat oleh setiap pemain, karena mereka adalah pelaku di lapangan. Bukan semata tugas pelatih. Bravo Timnas!!
Filed under: inspirasi | Leave a Comment
No Responses Yet to “TIMNAS PSSI VERSUS BAYERN MUNCHEN”