“Apa yang terjadi di Inggris adalah tim-tim terbaik mempersiapkan pemain tim nasional bagi lawan-lawan Inggris”
(Sepp Blatter,Presiden FIFA, di Universitas Zurich, kompas 7 Juni 2008)
Kualifikasi Piala Eropa 2008, bagi penggemar Inggris, menyisakan kekecewaan mendalam. Kekalahan 3-2 dari Kroasia dihadapan pendukung sendiri. Awal pengundian grup, banyak pengamat mengatakan bahwa Inggris berada di grup yang relatif lebih ringan dibanding dengan grup-grup lain. Para pemain timnas dianggap sebagai pemain berkualitas maka target juara grup diambil sebagai lambang percaya diri. Kenyataannya?
Mereka tertaih-tatih. Di tahan imbang Israel,kalah oleh Rusia di kandang Rusia, dan akhir tragis di tangan Kroasia padahal hasil imbang telah cukup menghantar Inggris ke Swis Juni nanti. Selanjutnya apa yang terjadi ? Mc Claren dipecat dari kursi kepelatihan The Three Lions (TTL). Ingat, pada awal pemilihan Mc Claren pasca lengsernya Sven Gorran Erickson, isu yang berkembang adalah munculnya pelatih Inggris asli.
Pelatih ini kemudian membuat serangkaian perombakan. Hal fenomenal adalah pencoretan David Beckham di timnas. Keinginan publik begitu besar untuk menghadirkan mantan kapten ini namun Mc Clarren ngotot untuk tidak memberi salah satu tempat bagi Beckham. Ternyata keputusan ini salah. Kehadiran Beckham cukup membantu performa tim di laga-laga akhir kualifikasi. Sayang, Beckham tidak dipasang sebagai starter ketika melawan Kroasia. Mc Claren cukup percaya diri minimal dengan hasil imbang. Gol kedua tim Inggris melaui Peter Crouch adalah hasil umpan Beckham.
Dominasi klub Inggris pada Liga Champion 08
Mulai tahun 2004/2005 ketika Liverpool menjadi juara liga champion, dominasi klub Inggris mulai terasa. Musim berikutnya, Arsenal bisa mencapai final, dan dikalahkan oleh Barcelona. Tahun 2006/2007, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea mulai unjuk gigi pada laga semifinal. Kala itu, AC Milan sebagai satu-satunya yang tersisa sebagai klub non Inggris, menjadi juara. Tahun ini pula kembali semi final diisi oleh klub-klub ini lagi dengan menambah Barcelona. Di final, MU menang 7-6 dari Chelsea.
Apa yang kita lihat adalah dominasi klub dari liga Inggris. Selayaknya juga bila timnas Inggris mampu menjuarai pertandingan prestise Eropa. Tapi apa nyata? Nama The Three Lions (TTL) tak akan muncul dalam grup di Swiss-Austria. Mereka hanyalah penonton. Mengapa timnas Inggris tidak mampu lolos ke piala Eropa 08 padahal mereka memiliki liga yang hebat di tingkat eropa?
Saya menyoroti tentang kontribusi liga bagi timnas Inggris. Pada umumnya, liga diharapkan sebagai wadah kompetisi sepak bola klub nasional dan hasil dari kompetisi ini bisa menyaring talenta terbaik yang berguna membentuk skuad timnas yang bagus. Dengan kata lain, liga diharapkan menjadi pembentuk citra identitas nasional melalui prestasi tim nasional.
Ya, inilah harapannya. Kenyataannya berbeda. Saya coba menyederhanakan dengan memberi pencitraan terhadap liga Inggris sebagai berikut:
a. Era The Big Four
The Big Four (TBF) yakni : Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan Manchester United (MU) mendominasi sejarah kampiun Liga Inggris sejak era 90-an sejak berubah menjadi Premier League. Klub-klub lain belum mampu menembus 4 besar EPL secara konsisten. Selain mendominasi gelar kampiun, mereka juga penyuplai terbanyak pemain yang berlaga di tim nasional khususnya sebagai starter. Mengapa mereka ?
TBF mampu menunjukkan kemampuan mereka bukan semata di EPL (English Premiere Leaguae) Piala FA ( Football Association), dan Piala Carling namun juga di liga internasional yakni Liga Champion. Dengan demikian mereka telah dianggap memiliki jam terbang tinggi untuk pertandingan internasional. Mental dan pengalaman klub inilah yang diinginkan oleh timnas untuk menyediakan bagi mereka pemain yang siap pakai untuk kebutuhan tingkat internasional oleh tim nas masing-masing.
b. Kepentingan Klub dan Pertandingan yang melelahkan
Kondisi ini secara teori cukup bagus, karena kebutuhan timnas bisa terpenuhi . Tapi secara sosial-ekonomi, keempat klub ini harus dilihat dari pespsktif lain, yakni p e r s p e k t i f b i s n i s. Apa artinya ? Dengan gelontoran uang yang berlimpah ruah dari masing-masing investor yang kebetulan juga bukan orang lokal Inggris, maka yang disebut prestasi bagi mereka bukanlah sekedar aman di posisi liga champion, melainkan meraih trophy. Satu musim tanpa trophy adalah kegagalan. Trophy bukan saja merupakan lambang prestisius namun disana ada hadiah pula. Namun yang lebih besar adalah setiap peraihan trophy, gelontorann uang dari para sponsor dan hak siar TV semakin besar. Lepasnya trophy sama saja menggoyahkan aliran dana para sponsor kepada klub tersebut.
Kita tahu berapa macam trophy yang diperebutkan oleh klub-klub ini melaui kompetisi, yakni : EPL, Piala FA, Piala Carling, dan Liga Champion. Dengan keragaman piala tersebut maka bisa kita hitung berapa kali seminggu mereka akan menjalani pertandingan. Sangat padat, walau mereka berstatus professional tetapi sangat berat bagi pemain.
Saya ingat, 2 musim lalu Sir Alex dan Mourinho pernah mengeluhkan jadwal di pentas EPL yang demikian padat setelah mereka gagal melangkah ke pentas selanjutnya di Liga Champion. Bagi mereka, jadwal pertandiang yang padat tidak memberikan andil bagi kebugaran pemain. Para pemain tidak berada dalam kebugaran fisik dan mental yang optimal. Mereka sebenarnya merasakan stress ketika berkompetisi antar teman se klub untuk menjadi starting eleven dan perjuangan mereka mengalahkan klub lawan di setiap kompetisi.
Hal ini pula yang membuat mereka mudah cedera. Mc Claren tahu benar, bahwa masalah cedera pemain sangat memusingkan siapapun yang menjadi pelatih tim nasional. Contoh, pergantian striker ia lakukan selama babak kualifikasi tersebut dari Wayne Rooney,Peter Crouch, Michael Owen, Emile Heskey. Dengan demikian, sebenarnya para pemain tim nasional yang diambil dari TBF merupakan pemain hasil perasan liga yang melelahkan. Sebenarnya sungguh kondisi yang berat manakala nama besar TTL hanya didominasi oleh para pemain yang cedera dan tidak bugar.
c. Tiadanya Pembatasan Pemain Asing
Bagi pemain, berlaga di lapangan membela klub adalah impian. Mereka harus bersaing dengan teman se klub untuk menjadi starting eleven. Ketika bermain, mereka bisa menjaga performa mereka dan memiliki pengalaman bertanding yang semakin banyak. Sedang bagi klub, kepentingan menjaga alur kearah trophy dilalui dengan menyiakan skuad terbaik mereka. Pertemuan antara kepentingan hasrat pemain dan klub ini melahirkan siapapun sosok pemain yang paling siap dan dibutuhkan klub tanpa memandang asal pemain.
Inilah yang terjadi. Banyak pemain klub yang menjadi starting eleven bukan lagi dari pemain lokal Inggris. Bisa dimaklumi karena klub, seiring banyak perpindahan kepemilikan klub kepada investor asing, menjadikan asal pemain tidak penting selama ia bisa memenuhi syarat kebutuhan tim meraih kemenangan. Sayangnya, kian musim datang kian banyak pemain asing non Inggris yang berlabuh di banyak klub EPL dan menggeser kesempatan pemain lokal sendiri.Menurut detiksport (28/5/08), terjadi penurunan jumlah pemain lokal Inggris dari musim lalu (2006/2007) untuk menjadi starter yakni 191 menjadi 170 orang (2007/2008). Sepertinya, kecenderungan pemain asing yang berlabuh semakin meningkat terbuka kemungkinannya di musim mendatang.
Gelandang Liverpool, Steven Gerrad telah jauh hari merespon banyaknya pemain asing ketika Inggris masih belum menyelesaikan kualifikasi Piala Eropa 08,Detiksport (27/11/07),” Adalah percuma memiliki liga terbaik bila timnas kami akan menderita dalam jangka panjang,”begitulah ungkapnya. Peringatan Gerrad saya maklumi sebagai keresahan pemain yang merasakan benar berlaga di lapangan dan sebagai pemain produk asli Inggris. Gerrad tahu banyak talenta di Inggris namun kurang kesempatan bertanding bagi mereka di liga negara mereka sendiri. Namun keinginan Gerrad harus berhadapan dengan tatanan ekonomi politik yang besar.
Tunduk kepada lembaga transnasional : Uni Eropa
Inggris merupakan anggota sebuah lembaga tingkat benua yang bercita-cita tercapainya “penyatuan” negara-negara eropa dalam satu payung yang dikenal sebagai Uni Eropa (European Union). Lembaga ini dapat disebut sebagai lembaga transnasional karena kebijakan ekonomi dan politiknya berlaku di seluruh negara anggota. Negara-negara anggota memiliki kesepakatan bersama dalam bentuk undang-undang yang mengikat anggotanya. Mereka juga telah memiliki mekasnime sanksi bagi yang melanggar aturan.
Dalam kasus ini, terdapat UU ketenagakerjaan asing yang memperbolehkan warga suatu negara di Eropa untuk bekerja di negara Eropa lainnya. Para pemain sepak bola dikelompokkan ke dalam kelompok tenaga kerja. Khusus mereka yang berasal dari Eropa, tentulah mudah urusannya. Sedang pemain lain yang tidak berasal dari wilayah Eropa harus melalui persyaratan yang ketat.Tak usahlah heran manakala Arsene Wenger tidak merasa bersalah memasukkan pemain yang lebih banyak sebagai starting eleven bukan berasal dari Inggris di klubnya,Arsenal. Secara hukum,itu tindakan syah.
Dari ketiga karakter ini, saya memahami adanya permasalahan tersendiri bagi timnas TTL ketika masih berharap kepada liga untuk menyediakan pemain yang berkelas sesuai kebutuhan. Ada sisi manusiawi yang tidak bisa dielakkan oleh para pemain yang kelelahan. Mereka tidak dalam kondisi yang bugar ketika berseragam timnas. Di sisi lain,para pemain lokal Inggris juga tidak mendapat jaminan untuk masuk sebagai pemain padahal disitulah insting dan performa ia sebagai pemain bisa terasah dan terjaga. Tak ada kebijakan yang bernuansa nasionalis yang berpihak bagi mereka hingga timnas terpuruk. Setiap kebijakan pemerintah melalui FA sebagai induk sepak bola Inggris harus pula tunduk kepada peraturan yang lebih besar yakni Uni Eropa. Ini salah satu kondisi khusus di Inggris sebagai anggota Uni Eropa.
Dengan demikian,semakin jelas bahwa prestasi sepak bola sebuah negara tidak akan lepas dari keputusan politik negara yang bersangkutan dan lembaga transnasional, serta perhitungan bisnis yang sedang berlaku di dunia sepakbola.
Filed under: perspektif | Leave a Comment
No Responses Yet to “INGGRIS : IRONI DIANTARA PIALA CHAMPION 08 DAN PIALA EROPA 08”