RUSIA TIDAK BELAJAR!
Ini kesan yang saya anggap pantas untuk Rusia. Kekalahan di fase grup dari Spanyol dengan skor 4-1 tidak membuat mereka belajar. Lemahnya barisan pertahanan kembali terulang yang dikawal oleh Alexandes Anuikov, Yuri Shirkov, Vasily Berezutsky, Sergei Ignashevics
Sebelum kick-off tanda bergulirnya bola antara Spanyol dan Rusia, beragam pendapat memprediksi pertandingan ini. Konsistensi Spanyol versus kejutan Rusia. Begitulah secara sederhana menyederhanakan ragam pendapat tadi. Sejak awal Piala Eropa bergulir hingga ke semifinal, hanya Spanyol yang mampu konsisten meramu barisan pertama dengan para pemain cadangan.
Masuknya Fabregas menggantikan Villa yang cedera ternyata berbuah positif. Gebrakan mulai teratur dari Spanyol. Dengan menempatkan 5 gelandang, Spanyol menguasai permainan. Kreasi Iniesta dari sisi kiri disambut Xavi yang tidak terkawal yang membuat gelagapan Igor Akinveef sebagai penjaga gawang di menit 50. 1-0 skor terjadi. Fernando Torres yang dianggap belum menemukan performa terbaiknya di pertandingan ini ditarik keluar digantikan oleh Dani Guiza, top skorer Liga Primeira dari klub Real Mallorca. Xavi juga ditarik keluar digantikan oleh Xabi Alonso, punggawa Liverpool dan pahlawan Piala Champion 05.
Gol kedua berasal dari sentuhan ringan lambung Fabregas ke arah Guiza yang dengan tenang memasukkan kembali bola ke jala Rusia di menit 73. Barisan pertahanan Rusia memang lemah pada pertandingan ini. Kembali di menit 82, Fabregas berasal dari sisi kiri mengumpan bola yang segera disambut David Silva. 3-0 .Gol ketiga ini mirip denga gol pertama.
RUSIA TELAH HABIS
Saya yakin, Hiddink telah mengingatkan para pemainnya tentang kedisiplinan lini belakang dan cara bermain melawan Spanyol. Namun entah mengapa, Rusia tidak tampak garang lagi dan terkoordinasi. Pergerakan bola selalu kandas di lini tengah dan pertahanan Spanyol khususnya Marcos Senna. Iker Casilas tidak terlalu kerja keras. Andrei Arsavin yang diawal disebut sebagai striker paling berbahaya Rusia, praktis tidak banyak berkresai karena kedisplinan pemain bertahan Spanyol.
Setelah gol kedua Spanyol, sepertinya semangat para pemain Rusia kendor. Tidak tampak lagi usaha merebut bola dengan gigih, yang terjadi hanya 8 pemain segera mundur ke jantung pertahanan. Demikianlah, gol ketiga lahir dari kreasi bebas Spanyol yang tinggal menunggu waktu untuk menyarangkan kembali bola ke gawang lawan.
Saya teringat ketika kegigihan Rusia yang menghasilkan kemenangan telak melawan Belanda, 3-1. Begitulah sebenarnya banyak orang ingin melihat. Rusia yang luar biasa melawan musuh-musuh sebelum ini, menjadi biasa saja kualitasnya. Nyaris tanpa kegigihan, semangat merebut bola, inovasi bola dan daya dukung antar pemain mejadikan Rusia sebagai timnas yang telah habis memberi kejutan.
SELAMAT UNTUK GUUS HIDDINK
Walaupun Rusia tersingkir, namun mereka telah memberi kejutan banyak orang. Polesan pelatih jenius Guus Hiddink membuat Rusia mampu berkibar dan dianggap orang. Tak salah Rusia merekrutnya menjadi pelatih tim nas. Dengan bermaterikan pemain dari liga lokal kecuali Ivan Saenko yang bermain di klub Nurenberg-Jerman,tim Swedia, Yunani dan Belanda takluk. Inilah khas Guus Hiddink ketika memoles timnas-timnas sebelumnya yakni timnas Belanda hingga ke semifinal,Korea Selatan hingga ke semifinal Piala Dunia 1998 dan Piala Dunia 2002 dan Australia hingga ke perdepalan final Piala Dunia 2006. sekarang tiba giliran Rusia berada di tim perempat final “Piala Dunia Mini” ini.
Lolos ke perempat final adalah prestasi yang luar biasa. Tidak semua pelatih bisa mengangkat tim seperti ini. Itulah keunggulan Hiddink untuk menjadikan Rusia sebagai tim yang menjanjikan di turnamen berikutnya. Kita tungggu!
Filed under: inspirasi | Leave a Comment
No Responses Yet to “RUSIA TIDAK BELAJAR!”